Hari Pertama: Imposter Syndrome Menyerang
Masuk ke kantor startup unicorn untuk pertama kalinya itu rasanya surreal. Semua orang terlihat pintar, cepat, dan tahu apa yang mereka lakukan. Sementara aku? Butuh 2 jam cuma untuk setup development environment. README-nya bilang "5 minutes setup" — ternyata itu untuk orang yang sudah familiar dengan Docker, Redis, dan 15 microservices yang saling terhubung. Tapi yang mengejutkan, ternyata banyak juga engineer senior yang struggle di hari pertama mereka.
Imposter syndrome itu normal. Yang tidak normal adalah kalau kamu merasa sudah tahu segalanya — itu namanya Dunning-Kruger effect.
Bulan Kedua: Mulai Menemukan Ritme
Setelah melewati fase onboarding, aku mulai assigned ke task-task kecil: fix bug, improve documentation, tambah unit test. Pelajaran terbesar di bulan ini bukan soal coding, tapi soal komunikasi. Ternyata di dunia nyata, kemampuan menjelaskan problem dan solusi lebih penting daripada bisa bikin algorithm yang optimal. Code review bukan tentang benar atau salah, tapi tentang trade-off dan maintainability.
Di akhir bulan ketiga, aku akhirnya deploy fitur pertamaku ke production — sebuah improvement kecil di halaman checkout. Perubahannya cuma 50 baris kode, tapi impact-nya dipakai jutaan user. Feeling itu tidak bisa diganti dengan apapun. Pesan dari aku: jangan takut untuk mulai, jangan malu untuk bertanya, dan selalu tulis catatan dari setiap hal yang kamu pelajari.